إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُوْلُ : أَنَا مَعَ عَبْدِيْ مَا ذَكَرَنِيْ وَتَحَرَّكَتْ بِيْ شَفَتَاهُ.
(رواه أحمد وابن ماجه )
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman: “Aku bersama hamba-Ku selagi dia Mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak-gerak menyebut-Ku.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Menurut fitrahnya setiap orang mendambakan ketentraman dan kedamaian batin.
Tak ingin hidup selalu diliputi kerisauan.
Untuk mencapai ketenangan batin apapun dilakukannya.
Memperoleh ketentraman batin bukan hal yang tidak mungkin.
Siapapun mempunyai peluang untuk memperoleh ketentraman batin.
Allah SWT mengajarkan hamba-hamba-Nya agar gemar berzikir.
Zikir merupakan salah satu langkah nyata untuk mendapatkan ketenangan hati jauh dari kerisauan. Allah SWT berfirman di dalam al-qur’an:
الَّذِيْنَ اٰٰمَنُوْا وَتَطْمِئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ، أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمِئِنُّ الْقُلُوْبُ.
“(Yaitu)orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah (zikir). Ingatlah, dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram.”
(QS. Ar-Ra’du:28).
Dengan mengingat Allah hati menjadi tentram. Dengan zikir hidup akan berarti dan bermakna. Bahagia dan hati lapang akan mengiringi hidup orang yang gemar berzikir. Bagi orang terus berzikir hidupnya terasa sejuk bagai embun dipagi hari. Sebaliknya, saat orang jarang berzikir kepada Allah, hatinya akan kering dan gersang. Lihatlah, bagaimana gurun pasir yang tandus dan gersang tak tampak ada kehidupan. Begitulah hati orang lupa Allah.
Orang mukmin akan sungguh-sungguh ingin mendapatkan ketentraman batin akan nampak pada berapa banyak waktu dari 24 jam dia gunakan untuk mengingat Allah.
Allah memulyakan orang yang senang mengingat Allah. Allah akan mengingat orang yang mengingat-Nya.
فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ . (البقرة :152)
“Ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku (Allah) akan ingat kepadamu.”
(QS.Al-Baqarah: 152)
Orang yang banyak mengingat Allah di sela-sela kehidupannya, berarti Allah selalu mengingatnya. Banyak mengingat Allah, berarti banyak merasakan kedamaian. Sering lupa Allah, sering merasakan kerisauan. Jika ingat Allah saat shalat saja, maka diluar shalat batinnya sering dilanda kegelisahan. Jika ingat Allah saat tertimpa musibah, dikala hidup lapang dia lupa Allah. Memang, ingat Allah merupakan hidayah Allah yang diberikan kepada hamba-Nya yang terpilih. Karena itu, sering kita jumpai ada orang yang sama sekali dalam hidupnya tidak ingat Allah dan mengenal-Nya. Orang yang tidak pernah mengingat Allah atau tidak mengenal Allah, sungguh seberapa banyak harta yang dimilikinya, setinggi apapun derajatnya di sisi manusia, dan sehebat apapun dia niscaya hidupnya akan dihantui oleh kecemasan dan kegelisan.
Ingat Allah hati menjadi tertambat kepada-Nya. Manakala hati sudah tertambat kepada Allah, maka apa pun yang dia lihat, dia dengar, dan yang dia rasakan, selalu nampak keagungan Allah dan ada keterlibatan-Nya. Dalam keadaan apapun dia selalu ingat kepada Allah. Karena ingat Allah merupakan ibadah yang sangat utama bagi lidah setelah membaca al-qur’an. Dia ingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring.
Hal ini disebutkan Allah dalam alqur’an surat Ali Imran ayat 191.
“Orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring. (QS.Ali Imran: 191)
Zikir dapat menguatkan orang-orang yang lemah untuk bergegas beribadah. Dengan zikir orang akan dengan terampil dan bersegera melakukan kebaikan. Bagi orang yang merasa lemah untuk bangun malam (shalat malam), banyak harta tetapi terasa diri bakhil untuk menginfakkan, atau takut untuk berjuang di jalan Allah, maka perbanyaklah zikir kepada Allah. Memperbanyak zikir akan membawa pada keberuntungan.
Allah berfirman: “berzikirlah sebanyak-banyaknya, agar kalian beruntung.” (QS. Al-Jum’ah: 10)
Sebagian ulama membagi zikir kedalam empat bagian, yaitu zikir lisan; zikir akal; zikir jawarih (anggota tubuh); dan zikir hati.
Pertama: zikir lisan. Dia gunakan lisan untuk banyak menyebut asma Allah, mengagungkan Allah, memperbanyak membaca Al-qur’an, berkata yang lemah lembut kepada sesama, lisannya tidak memancar kata-kata berduri yang menusuk hati saudaranya, selalu berusaha berkata benar, dan setiap apa yang keluar dari lisannya selalu berharap Allah meridhainya. Dia hindarkan lisannya dari perkataan haram, pergunjingan, profokasi, sumpah palsu, memaki, mencemooh, dan perkataan kotor lainnya. Lisannya selalu basih dengan menyebut asma Allah. Tiada hari yang dilaluinya, melainkan lisannya terus mengagungkan nama-nama Allah.
Kedua: Zikir akal. Anugrah Allah berupa akal yang diberikan kepadanya senantiasa dipergunakan untuk menyaksikan kebesaran dan keagungan Allah. Dengan akalnya direnungkan dalam-dalam bagaimana Allah menciptakan ala mini begitu indah? Keindahan dan begitu besar maha karya-Nya, menunjukkan bahwa betapa Maha Agungnya Allah. Dengan memikirkan ciptaan Allah, semakin bertambah keimanan dan ketaqwaan di dalam hatinya. Apapun yang terlintas dipikirannya selalu dikaitkan dengan kebesaran Allah. Dan berakhir dengan pengakukan bahwa Maha Suci Allah Yang telah menciptakan semuanya. Tidak sedikitpun dari ciptaan-Nya yang sia-sia. Akal yang berzikir kepada Allah, akan tunduk dan mengikuti hukum-hukum Allah. Olah pikir manusia sebatas bagaimana menyingkap rahasia di balik ciptaan-Nya.
Ketiga: Zikir jawarih. Zikir jawarih (anggota tubuh) merupakan implementasi dari hati yang terpaut dengan Allah. Kedua matanya setiap apa yang dilihatnya tampak kebesan Allah. Suara yang didengarnya menunjukkan suara-suara milik Allah. Kakinya tidak melangkah melainkan melangkah ke tempat yang Allah mau. Perutnya diisi cukup dengan hidangan yang Allah halalkan. Tangannya ringan bekerja mengais keridhaan Allah. Seluruh tubuhnya dijadikan modal untuk mendapatkan rahmat Allah. Beribadah dan beramal kebaikan di dasarkan pada ketentuan-Nya. Dia hentikan semua anggota tubuhnya dari perbuatan maksiat.
Dia serahkan hasil jerih payah dan ikhtiarnya kepada Allah. Akan ringan dan tenang langkah-langkah yang diiringi dengan ingat Allah.
Keempat: Zikir hati. Hati yang berzikir mampu menangkap keagungan Allah. Peka terhadap seruan-Nya. Ketika disebut nama-nama Allah, bergetar hebat hatinya karena merasakan kedasyatan di balik nama tersebut. Hatinya selalu mengkilap bercahaya menerangi semua anggota tubuhnya. Sentuhan-sentuhan Ilahi disambutnya dengan lega dan ridha. Ia perintahkan lisan untuk berkata benar dan lemah lembut. Ia suruh mata untuk menundukkan diri di hadapan kebesaran Allah. Ia perintahkan kedua kaki untuk melangkah menuju seruan Allah. Ia bimbing semua anggota tubuh untuk selalu mengenal dan berpijak pada ketulusan. Ia cegah semua anggota tubuh dari mengingkari Allah dan durhaka kepada-Nya. Ia rasakan kedekatan Allah bersamanya. Hingga ia jalani perubahan hati yang begitu cepat tetap tenang bersama Allah. Hati yang bening dan terawat selalu penuh dengan zikir kepada Allah. Ketenangan dan ketentraman akan menyertai hati yang selalu bersih dan berzikir.
Indah sekali rasanya jikalau lisan yang terus menyebut nama-nama Allah, pikiran mampu menangkap rahasia di balik kebesaran ciptaan Allah, anggota tubuhnya ringan melangkah menuanikan perintah Allah, dan hatinya merasakan kedekatan dan kehadiran Allah. Sungguh sempurna iman dan ketaqwaan seorang hamba yang langgeng berzikir kepada Allah. Hidup menjadi optimis dengan berzikir. Kesulitan dihadapi dengan tenang. Permasalahan diselesaikan dengan lapang dada. Musibah dan ujian hidup yang menerpa di jalani dengan sabar dan shalat. Rizki yang sampai kepada dirinya disyukuri. Indah penuh kedamaian hati orang yang gemar berzikir.
Ada kisah yang cukup menarik untuk diperhatikan, yaitu kisah seorang nabi yang merasa malu kepada seekor cacing merah yang terus berzikir kepada Allah sepanjang hari sejak ia diciptakan. Beliau adalah Nabi Daud as. Kisahnya begini, Saat Nabi Daud as. Duduk sedang membaca kitab Zabur, tiba-tiba beliau melihat seekor cacing merah di tanah. Maka Nabi Daud as berkata dalam hati: “Apa yang dikehendaki Allah dengan seekor cacing ini?” Maka Allah mengizinkan cacing itu dapat berbicara. Lalu berkata cacing itu: “Hai Nabi Allah , Tuhanku telah memerintahkan kepadaku diwaktu siang agar aku berzikir (subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah, wallaahu akbar) sebanyak seribu kali, dan diwaktu siang aku berzikir (allahumma shalli ‘ala Muhammadinin nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam) sebanyak seribu kali, Sedangkan anda apa yang dapat anda ambil manfaat darimu?, maka Nabi Daud as menyesali perbuatannya telah meremehkan seekor cacing merah, dan takut kepada Allah, bertaubat, serta bertawakkal kepada-Nya. (Mukasyafatul Qulub, h.7)
Begitu besar fadilah berzikir bagi kehidupan manusia. Zikir merupakan perintah Allah yang dapat memberikan keselamat di dunia dan di akhirat. Ketentraman yang didambakan akan terwujut bagi orang yang gemar berzikir. Zikir juga menghilangkan kemunafikan, mengusir setan perusak hati, menguatkan iman seorang hamba, membersihkan hati dari karat dosa, dan zikir termasuk ibadah yang disukai oleh Allah. Zikir juga menjaga hamba terjatuh pada kehinaan. Subhanallah, begitu besar rahasia zikir bagi kehidupan manusia, hingga baginda Rasul SAW tidak pernah lepas dari berzikir. Semua waktunya beliau pergunakan untuk berzikir kepada Allah. Karena itu, berzikirlah kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring, sakit atau sehat, lapang atau sempit, diwaktu malam atau siang hari, di dalam rumah atau di luar rumah, di daratan atau di lautan, diwaktu kaya atau miskin, dengan pelan-pelan atau terang-terangan, intinya dalam setiap keadaan. Jika ini yang kita lakukan dalam menjalani kehidupan ini, insyaallah hidup kita akan tenang dan tentram.
Namun, kita tahu bahwa tiada daya dan kekuatan bagi kita untuk bisa istiqomah dalam berzikir kecuali atas pertolongan dan hidayah Allah semata. Karena itu, orang yang telah dianugrahi kesempatan berzikir berarti dia telah mendapatkan anugrah yang besar dari Allah SWT. Zikir akan menyebabkan Allah menurunkan jalan keluar dari kesulita-kesulitan yang dihadapinya. Sebab zikir, Allah menyayangi seorang hamba. Dengan zikir Allah curahkan nikmat dan rahmat-Nya hamba-hamba-Nya. Zikir menjadikan seorang hamba 24 jam akan bersama Allah SWT. Karena itu, ajak diri untuk terus berzikir dan membiasakan berzikir. Ajak diri, keluarga, teman, sahabat, saudara, dan masyarakat untuk selalu berzikir kepada Allah SWT. Hingga kebahagiaan dan ketentraman melekat dalam kehidupan mereka. Semoga kita semua dijadikan oleh Allah menjadi hamba-hamba-Nya yang gemar berzikir. Amin.
Ajak diri bermunajat kepada Allah…..
اَللٰهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.
Ya Allah, tolonglah kami agar selalu dapat berzikir kepada-Mu
(dengan hati, pikiran, jawarih, dan lisan kami selama hidup kami)
Dan juga agar kami senantiasa dapat mensyukuri nikmat-Mu…..…
Serta memperbaiki ibadah kami kepada-Mu……..…
Sumber : http://annajib.wordpress.com/2008/03/18/k-allah-bersama-orang-yang-berzikir/
Senin, 08 September 2008
God is too Big to be contained in one single container
Apa yang dirasakan oleh sekuntum bunga yang baru saja mekar? Bahagia…. Kebahagiaan yang tak terjelaskan lewat kata-kata. Itulah pertama kalinya ia mengalami sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang tak akan dialaminya lagi. Sesuatu yang terjadi hanya “sekali” saja. Ia bersuka-cita, ia menari dan menyanyi riang….. Ia mengumpulkan para sahabat dan kerabat untuk berbagi berita baik itu dengan mereka: “Lihat, lihat…. Aku telah mekar!”
Apa yang terjadi, How did it happen?
Entah apa yang terjadi, entah bagaimana….. Ia berusaha untuk mejelaskan, tetapi tidak mampu. Ketika Kabir, mistik sufi asal India Utara itu ditanya, “Apa yang kau rasakan saat itu?” Ia menjawab, “Kulihat sungai Ganga yang berbada lebar itu terbakar, dan ikan-ikannya memanjat pohon!”
Nanak, yang kelak akan dikaitkan dengan agama Sikh, salah satu diantara agama-agama baru yang berusia dibawah enam abad, menjawab dengan cara lain: “Aku melihat langit terbelah, dan turun hujan cahaya….. Cahaya Murni!”
Namun, mereka pun menyadari bahwa pengalaman mistik mereka tidak berarti apa-apa jika tidak bermanfaat bagi orang lain. Maka, terpaksa, mereka berusaha untuk meng-“akal”-kan sesuatu yang sungguhnya berada diluar akal, supaya kita dapat memahaminya. Supaya “masuk-akal” kita!
“Agama, dan kitab-kitab suci,” kata Murshidku, Sheikh Baba, seorang tukang es di Lucknow (Pusat Peradaban Islam di India Utara), “adalah hasil upaya seperti itu.”
Ia melanjutkan, “Agama dan kitab-suci adalah sarana, bukan tujuan. Gunakan mereka sebagai pemicu untuk memicu kesadaran di dalam dirimu. Untuk memicu kehausan dan kerinduan di dalam dirimu. Untuk apa? Untuk mengalamai sendiri apa yang dialami oleh para rasul, para sufi, juga para yogi, para suci dan mistik dari semua agama, semua tradisi.
“Jika kau menganggap agama dan kitab suci sebagai tujuan, kau akan menduakan Allah. Itulah yang dilakukan banyak orang saat ini. Tujuan adalah Allah. Dari-Nya kita berasal, kepada-Nya kita kembali.”
Pemahaman tentang agama seperti inilah yang menjadikan agama Berkah atau Rahmat bagi Alam Semesta. Tafsir ini menjadikan agama Jalan Raya, Jalan Tol yang dapat dilalui siapa saja, kapan saja…. Jalan bebas hambatan.
Berbicara atau menulis tentang agama, atau tepatnya “pemahamanku tentang agama”, aku tidak dapat tidak mengutip Guruku, Murshidku, Sheikhku. Segala apa yang kumiliki saat ini hanyalah karena berkahmu, Guru!
Ia adalah penjual es, miskin materi, berpakaian compang-camping, robek sana, robek sini yang kemudian disulam dengan rapi oleh keponakannya….. Tidak seperti para ustad muda jaman kita yang sering muncul di layar teve. Tata Rias oleh ……. Busana oleh …….. Tepuk Tangan!
Sayang, setting panggung dan busana penuh gemerlap itu jarang menunjukkan kegemerlapan hati sebagaimana pernah kusaksikan dalam diri Murshidku. Seorang tukang es, penjual es balok.
Ketika seorang remaja dari keluarga Hindu menyampaikn niatnya untuk “masuk Islam”, ia pun tertawa: “Kata siapa kau belum masuk Islam? Ingat, Penyerahan Diri dan Kedamaian Hati itulah Islam. Penyerahan Diri terhadap Kehendak Ilahi dan Kedamaian Hatimu sendiri – dan, kau, nak, memiliki keduanya. Kau sudah menyatakan niatmu untuk masuk Islam, dan Allah telah mendengar niatmu itu.
“Tetapi,” nah ini yang luar biasa, yang barangkali jarang didengar di negeri kita, “janganlah sekali-kali menymbongkan dirimu sebagai Muslim. Biarlah Allah yang menentukan apakah Penyerahan Dirimu sudah sampurna atau tidak.”
“Aku ingin lebih dekat denganmu, Guru!” remaja itu masih ngotot.
“Kau sudah dekat dengan Allah.
Tugasku selesai sudah. Dengar nak, aku pun, hingga saat ini masih ber-jihad untuk menjadi seorang Muslim. Aku pun masih menunggu fatwa-Nya apakah aku diterima sebagai Muslim atau tidak.”
Jihad, bagi Guruku, berarti Koshish dalam bahasa Urdu, To Strive, To Struggle, bukan To Fight, “Jihad berarti ‘Berupaya dengan Sungguh-Sungguh’. Jihad bukan berantam, bukan berkelahi,bukan mencaci-maki, apalagi membunuh.”
Ia menggunakan bahasa sederhana, bahasa populer, bahasa gaul untuk jaman itu….. maklum, umunya para murid adalah remaja, anak-anak muda….. dan, yang termuda, yang baru berusia 11-12 tahun, seorang anak yang berasal dari Solo, Jawa-Tengah, Indonesia.
“Tetapi, ada juga ayat yang mengatakan bahwa di yang diridhai Allah hanyalah Agama Islam.” Murid yang paling tua, berusia 30-an tahun, mengingatkan sang Guru akan satu ayat dari kita yang memang bunyinya kurang-lebih begitu.
Sang Guru tersenyum, “Bukan diridhai, tidak ada istilah ridha dalam ayat itu. Ridha itu bahasa Arab, dan Al-Qur’an dalam bahasa Arab. Jika memang Allah ingin menggunakan istilah ridha, Ia akan menggunakannya. Aku memaknai, memahami ayat itu seperti ini: Bagi Allah yang ada hanyalah Islam.”
Beliau tidak pernah meng-klaim sebagai penafsir Kitab Suci, “Siapakah kita ini hingga dapat menafsirkan Firman Allah? Kita hanya dapat memahami Firman-Nya sesuai dengan tingkar kesadaran kita masing-masing.
“Sebab itu,” ia pun selalu menasihati kita, “janganlah sekali-kali merasa sudah ‘khatam’, sudah selesai dengan kitab-sucimu. Kitab-kitab suci bukan untuk dibaca seperti buku-buku umum lainnya. Kita-kitab suci harus diulangi. Terus-menerus, sepanjang hidupmu….. karena, setiap kali kau membacanya, jika kesadaranmu telah meningkat, kau akan memperoleh makna baru.”
Sebab itu pula, beliau selalu menganjurkan kita untuk membaca kitab-suci, bahkan mengaji dalam bahasa Urdu, salah satu dari sekian banyak bahasa nasional India, “Karena, dengan cara itu kalian dapat lebih memahami arti kitab suci.”
Majelis-majelis ulama di India maupun Pakistan tidak mengharamkan pengajian dalam bahasa Urdu, bahakan bahasa daerah lainnya. Sehingga, seperti yang dikatakan oleh Guru, “Kalian tidak seperti burung beo, hanya menghafal saja!”
Wah, Guru, untung kau lahir di India.
Kalau lahir di Indonesia, barangkali sudah diperkarakan oleh mereka yang merasa lebih tahu dan memonopoli ajaran agama.
Kembali pada beliau, “Ya, di mata Allah yang ada hanyalah satu, yaitu Islam. Dan, semua Nabi adalah Muslim. Hazrat Isa yang ajarannya menjadi inspirasi bagi agama Masihi, Hazrat Musa yang syariatnya menjadi agama Yahudi – mereka semua adalah Muslim. Tanpa kecuali. Bahkan, nabi-nabi lain, dari tradisi-tradisi lain yang tidak disebut dalam Al-Qur’an. Karena, Allah pun berfirman bahwa tidak semua nabi dijelaskan lewat Al-Qur’an.”
Beliau mengartikan Islam sebagai “sifat dari agama”. Dan, “sifat”-nya itu satu. “Seperti,” Beliau jelaskan, “gula hanya memiliki satu sifat, ‘Manis’. Itu saja. Apapun bahan baku yang digunakan untuk membuat gula, jika tidak manis, ya bukan gula.
“Din adalah sifat Mazhab.
Din adalah Keagamaan, inti sari agama, agama yang dilakoni, dijalankan. Mazhab adalah wahananya, alirannya. Yang mengalir adalah Air Kehidupan Din. Mazhab adalah agama, aliran. Din adalah keagamaan, air yang mengalir.
“Apapun Mazhabmu,
Jika kau menjalankannya dengan baik, maka kau telah menemukan Din. Dan, Din itulah yang diperhatikan oleh Allah.
“Agak tidak tepat jika Din diartikan sebagai agama.
Karena, ketika Al-Qur’an diterima oleh Kekasihku,” Ya, ‘Kekasihku’, atau Mere Mehboob dalam bahasa Urdu, dengan julukan itulah beliau sering menyebut Rasul Allah, Muhammad yang kumuliakan…… “saat itu sudah ada agama Masihi, ada agama Yahudi, ada kelompok-kelompok lain pula. Kendati demikian, Firman Allah jelas dan tegas bahwa Isa yang dijunjung tinggi oleh kelompok Masihi, dan Musa yang dijunjung tinggi oleh kelompok Yahudi, adalah Muslim, Nabi. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang rendah. Semua Nabi, semua Rasul sama adanya.
“Din adalah ‘laku-agama’, perilaku yang sesuai dengan ajaran agama. Dan, ajaran agama sungguh sangat luas, tidak dapat dijadikan monopoli salah satu kelompok. Maka, Allah pun menasihati kita supaya melakoni agama sesuai degan kesadaran kita, dan membiarkan orang lain melakoninya sesuai dengan kesadaran dia.
“Sungguh sangat tidak bijak jika kita mengharuskan seorang anak yang baru berusia 5 tahun untuk melakoni agama dan memahami ajaran agama sebagaimana dilakoni dan dipahami oleh seorang dewasa.”
Saat itu, pemahaman agama seperti itu terasa “oke-oke” saja. Masuk akal sih, walau usia saya baru 11-12 tahun. Beberapa tahun kemudian, kembali ke Indonesia, saya baru sadar betapa revolusionernya pemahaman Guruku, Murshiduku, Sheikhku…. Waheguru, Wah Guru, Engkau sungguh hebat!
Di lain kesempatan ia merestui perkawinan antara dua orang muridnya yang beda agama. Perkawinan seperti itu memang tidak dilarang oleh konstitusi negara India, kendati sebagian masyarakat masih belum dapat menerimanya. Saat itu, seorang murid lain berkomentar, “Baba, bagaimana jika kelompok fundamental menyerangmu?”
“Ah, kelompok fundamental….
Apa benar mereka fundamental? Jika benar fundamental, mereka tidak akan menyerang. Karena mereka tahu persis ketika Mere Mehboob kawin dengan Khadija, ritual Agama Islam pun belum ada. Perkawinan mereka itu sesuai dengan ritual agama yang mana? Apakah perkawinan mereka tidak sah?
“Tidak, yang dapat menyerang saya bukanlah kelompok fundamental. Tetapi, segerombolan orang-orang yang belum memahami agama. Kasihan. Ya, mereka patut dikasihani. Aku akan menerima serangan mereka, dan akan berusaha untuk menjelaskan sebatas kemampuanku.”
Ia bukanlah seorang Guru yang suka memasang senyuman plastik. Ketika gusar, ia tidak berusaha untuk menyembunyikan kegusarannya. Seperti ketika ia menghadapi teman-teman dari kelompok Wahabi yang meneruskan sekte Hambali yang alot, keras, kaku. Mereka mengaku sebagai satu-satunya kelompok dalam Islam yang masih setia pada Al-Qur’an dan Hadis. Mereka tidak relah jika ada yang melakukan ijtihad dan berusaha untuk memahami ayat-ayat suci sesuai dengan kesadarannya.
Mereka adalah kelompok yang selalu berseberangan dengan Cak Nur, Gus Dur, Cak Nun, Dawam, Ma’rif. Mereka selalu membela para penjahat dan teroris seperti Amrozi, Samudra dan lain-lain.
Kepada mereka, Sang Guru mengatakan , “Janganlah hidup dalam ilusi seolah dengan memelihara janggut seperti nabi, atau berjubah seperti beliau – kalian sudah cukup Islam. Berakhlaklah seperti beliau.
“Nabi mengangkat pedang hanya untuk melawan kezaliman, demi kebebasan dan kemerdekaan….. Apa yang kalian lakukan? Setiap tahun mengejar teman-teman kita dari kelompok Shi’a. Tidak pernah berhenti sebelum jatuhnya korban, sebelum ada nyawa yang melayang. Mencaci-maki kelompok-kelompok lain. Kalian adalah Daag pada wajah Islam.” Daag dalam bahasa Urdu berarti “Noda”.
Sekitar tahun 1960-an memang masih sering terjadi pertikaian antara kelompok Shi’a dan Sunni, khususnya menjelang hari berkabung bagi kelompok Shi’a dimana mereka memperingati kematian Hassan dan Hussein, cucu Nabi, Mere Mehboob, Kekasihku.
Beliau, Guruku, sungguh merupakan ensiklopedi kebijakan. Suatu ketika ia menjelaskan, “Nabi kita begitu rendah hati, begitu sopan, santun, sehingga siapapun yang datang kepada-Nya, ia akan berkata, ‘Doakanlah diriku, keluargaku, sahabatku’…. Padahal, bukanlah beliau yang membutuhkan doa kita. Kitalah yang membutuhkan doa beliau.
“Sekarang, apa yang terjadi?
Telah menjadi kebiasaan kita untuk setiap kali mendoakan beliau. Tidak apa, baik-baik saja. Asal kita tidak menjadi sombong, tidak menjadi angkuh seolah beliau membutuhkan doa kita.
“Tisak, beliau tidak membutuhkan doa kita.
Kitalah yang membutuhkan doa beliau!”
Tetapi, kemudian, ia pun selalu mengingatkan kita, “Janganlah kalian membingungkan teman-teman yang belum siap untuk pelajaran ini. Mereka yang belum siap dengan materi yang kita dapatkan disini.
“Dalam setiap tradisi, dalam agama manapun, kita selalu diingatkan supaya tidak melemparkan mutiar kepada kawanan babi. Bhagavad Gita pun mengatakan, janganlah menyebarluaskan ajaran ini di tengah masyarakat yang belum siap.
“Babi diberi mutiara, apa yang terjadi?
Ia tidak tahu nilai mutiara, ia memakannya, keselek, dan ia tidak dapat benapas. Ia gusar dan akan menyerangmu kembali.
“Berikan mutiara kepada mereka yang mengerti nilai mutiara. Kepada mereka yang mengapresiasinya. Kepada mereka yang akan menghargainya.
“Seorang yang memiliki pengetahuan dan tidak berbagi dengan orang lain yang siap untuk menerimanya, adalah seorang kikir, pelit. Berbagilah dengan mereka yang siap.
“Tuhan ada dimana-mana, di Barat dan di Timur, di Selatan dan di Utara. Wajah-Nya ada dimana-mana, tetapi untuk pemusatan kesadaran kita membutuhkan kiblat…. maka, dalam setiap agama ada kiblat.
“Jagalah tali persahabatan dengan sesama manusia….. ya, dengan mereka yang berjiwa manusia, bukan berbadan manusia saja……” Beliau selalu menasihati kita untuk menjauhi mereka yang hanya berbadan manusia. Tidak perlu membenci mereka, hanya menjauhi saja, “Karena, kehewanian mereka bagaikan penyakit menular. Nanti, pada suatu ketika, jika kau sudah memiliki kemampuan untuk mengobati mereka, silakan mendekati mereka…. Tetapi, jangan dulu, jangan sekarang…. Kemampuan seperti itu belum ada dalam diri kita.”
Din, atau melakoni agama, menjalani ajaran agama, bagi beliau adalah proses seumur hidup, “Jika kau menganggap dirimu sudah menjadi Ulama, sudah memiliki Ilmu – maka kau akan mati dengan ilmumu itu. Segitu-gitu saja yang kau miliki. Kau tidak akan berkembang lebih lanjut.
“Seorang Ulama Sejati tidak pernah berhenti menggali diri…. Ia menemukan pemahaman-pemahaman baru dalam dirinya, bukan saja dengan membaca ulang kitab suci, tetapi dengan memahami ayat-ayat Allah yang bertebaran di alam semesta. Dimana-mana.”
Ya, Ayat-Ayat Allah bertebaran dimana-mana, “Ada yang dirangkum dan ditulis, dicetak…. Kita menyebutnya Al-Qur’an, Bacaan Mulia. Ada yang menyebutnya Bhagavad Gita, Nyanyian Mulia. Ada pula yang menyebutnya Injil, Berita Mulia. Semuanya mulia.
“Aku percaya,” lanjut Guruku, “bahwa semua itu berasal dari Satu, dari Allah. Semuanya, tanpa kecuali, berasal dari Yang Maha Kuasa, Yang Maha Esa.
“Dulu, aku pun sering mempersoalkan teman-teman Hindu yang kuanggap memuja berhala….. Tetapi, kemudian kupahami bahwa apa yang kuanggap berhala, adalah kiblat mereka. Mereka menggunakan semua itu sebagai sarana untuk memusatkan kesadaran mereka, sebagaimana aku menggunakan kaligrafi, bahkan gambar Mekah Shariff sebagai sarana untuk pemusatan kesadaranku.”
Dengan bekal pemahaman agama seperti inilah aku kembali ke negeri asalku, ke tanah air, ke Indonesia….. dan, awal-awalnya masih oke….. tetapi, lambat-laun, pemahaman agama yang berkembang disini sungguh membingungkan aku.
Agama tidak lagi menjadi sarana.
Agama disejajarkan dengan Tuhan, dianggap absolut. Begitu pula dengan kitab suci…. Dan, yang lebih celaka lagi, Manusia Indonesia, oleh lembaga yang merasa paling kompeten, tidak lagi diperkenankan untuk memahami aajaran agama sesuai dengan kesadarannya. Ia tidak diperkenankan untuk berijtihad. Pemahaman agama dibungkus rapi dalam kapsul, di pak, dan diberi tanda, “Sesuai dengan …..” Dan, hanyalah pak atau botol bertanda “Sesuai dengan ……” itulah yang diperjual-belikan.
Agama menjadi komoditas. Mereka yang merasa memiliki monopoli terhadap agama, menjajahnya di pasar untuk diperjualbelikan. Para politisi menggunakannya dengan cermat. Para pengusaha pun idak mau kalah.
Sementara itu, Lia Aminuddin diperkerakan, Ahmadiyah dikejar-kejar….. Jika Guruku disini, barangkali darahnya sudah dinyatakan halal. Terlepas dari setuju atau tidaknya kita terhadap apa yang dikatakan oleh Lia dan apa yang didakwahkan oleh Ahamadiyah, jangan lupa apa yang kita katakan dan dakwahkan pun tidak diseutujui semua orang. Ya, kebetulan saja kita mayoritas, sehingga minoritas mati kutu.
Agama, sebagaimana kita pahami dan praktekkan saat ini, jelas tidak menjadi Rahmat bagi Alam Semesta. Jangankan Alam Semesta, bagi negara kita pun tidak bisa.
Agama sebagaimana dipraktekkan oleh kelompok-kelompok militan di Timur Tengah misalnya, menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan bagai seluruh rakyat Palestina dan Lebanon. Saat ini, silakan berpihak pada mereka – kelak, jika Bangsa Palestina dan Lebanon bangkit, namamu akan dimasukkan dalam daftar para pengkhianat bangsa dan negara. Kewarasan kita tidak setuju dengan serangan agresor Israel, tetapi kewarasan kita juga tidak setuju dengan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok militan sehingga selalu memicu perang di kawasan itu.
Palestina, Lebanon, Irak….. negara-negara di Teluk yang merasa tertindas saat ini, harus mengupayakan kelahiran seorang Gandhi. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, dan kejahatan yang menyerangmu akan kehabisan energi. Mereka akan berhenti sendiri. Saat ini, kejahatan Israel malah mendapatkan energi dari kelompok-kelompok militan di Timur Tengah. Mereka memperoleh alasan untuk melakukan agresi militer.
Adalah suatu kemalangan bahwa kelompok-kelompok militan seperti itu, ada juga di tanah-air kita. Ada juga tokoh-tokoh yang menyebarluaskan kebencian dengan menggunakan dalih agama. Ayat-ayat suci diselewengkan artinya, dan penyelewengan itu disebut ilmiah. Baru keluar dari penjara, sudah berkarya kembali. Seribu orang menghadiri Tabligh Akbar yang digelarnya. Tepuk Tangan!!
Agama adalah Berkah.
Ia menjadi Rahmat yang menyebarkan Kasih, atau menjadi Laknat yang penuh Kebencian – karen ulah manusia, karena kita. Karena pemahaman kita, karena laku kita.
Agama merupakan Rahmat bagi Alam Semesta.
Agama-agama, setiap agama, agamaku dan agamaku, agama kita semua – yang intinya adalah satu, Penyerahan Diri pada Kehendak Ilahi – tanpa kecuali merupakan Berkah dan berpotensi sebagai Rahmat bagi Alam Semesta. Berpotensi. Benih Potensi itu mau ditanam, disiriami air kehidupan, dipupuki dengan cinta…… atau dibiarkan jatuh diatas tanah yang gersang, dan mati dalam kekeringan…… semuanya kembali pada kita.
Agama adalah sesuatu yang bersifat sangat individu, dalam pengertian setiap orang harus menjalaninya sendiri. Ia tidak dapat diwakilkan. Tidak ada yang menjadi perantara antara khalaq, ciptaan Allah, dan Khaaliq, Gusti Allah., Sang Maha Cipta. Institusi-institusi yang saat ini berperan sebagai perantara tak akan bertahan lama.
Kebangkitan Manusia Indonesia, bangkitnya kesadaran dalam diri kita – akan mengakhiri peran institusi-institusi tersebut. Dan, institusi-institusi tersebut pun menyadari hal ini. Mereka memahaminya betul. Mereka tahu bahwa institusi-institusi mereka melanggar Hukum Alam, bertentangan dengan Firman Allah.
Berkah dan Rahmat adalah dari Allah.
Berkah tidak dapat diinstitusikan. Rahmat tidak dapat dilembagakan. Segala upaya ke arah itu hanya membuktikan ketololan kita.
Lalu, bagaimana agama yang konon diakui sebagai rahmat bagi seluruh alam, dapat diinstitusikan? Bagaimana dapat dilembagakan?
Namun, kenyataan di lapangan, ground facts, membenarkan bahwa setiap agama telah diinstitusikan, dilembagakan…… Apa iya? Jika memang demikian, bagaimana dengan Firman Allah bahwa Agama adalah Rahmat bagi Seluruh Alam? Apa iya, Rahmat Allah dapat diinstitusikan?
Saya tidak tahu.
Yang jelas, pelembagaan semacam itu telah menyusahkan banyak orang. Memecah-belah umat, memicu pertikaian, pertengkaran, bahkan perang atas nama agama.
Jangan-jangan, dalam kegagapanku aku berpikir, jangan-jangan yang mereka anggap agama dan dilembagakan itu bukan agama….. ini memang pemikiranku yang sangat bodoh dan tidak ilmiah….. Jangan-jangan yang mereka lembagakan dan institusikan itu hanyalah “ego” mereka, kesombongan mereka, keakuan mereka yang merasa sudah tahu segala sesuatu tentang agama.
“Manusia yang masih merupakan konsep, masih harus berjuang untuk menjadi final,” kata seorang teman, “malah berusaha untuk menciptakan konsep tentang Tuhan.” Inilah kesia-siaan kita. Inilah kekacauan pikiran kita.
Lembaga-lembaga dan institusi-institusi kita hanya menyandang nama agama. Identitas agama digunakan oleh pengusaha dan pedagang bagi usaha mereka, warung mereka. Digunakan oleh para politisi sebagai asas partai mereka. Bahkan pembela para penjahat pun menggunakannya secara bebas. Tidak ada yang menegur mereka? Kenapa? Karena, kita semua melakukan kesalahan yang sama. Kita semua, sama-sama gila!
Agama adalah Rahmat bagi seluruh Alam.
Alas, sayang, kita belum beragama…. Kita belum merasakan Rahmat-Nya….. Turunnya Hujan Berkah tidak memberi manfaat apa-apa kepada kita, karena kita berdiri tegak seperti gunung, bukit. Kita tetap gundul.
“Jadilah Lembah,” kata Lao Tze, “rendahkan dirimu, dan kau akan menjadi subur….. Air hujan akan menggenang, kau dapat menampungnya!” Kemudian, agama pun betul-betul menjadi Rahmat bagi Alam Semesta.
Agama manapun,
Agamamu dan Agamaku, Agama-Agama kita….. Agama yang merupakan jalan, dan setiap jalan menuju tujuan yang satu dan sama – Allah! Kau menyebutnya Allah, ada yang menyebutnya Bapa di Surga, Hyang Widhi, Tao, Buddha, Satnaam, Ahura Mazda, Gusti – apa saja – Ia Satu dan Sama.
Banyak Jalan, Satu Tujuan.
Namun, jangan pula berhenti di pinggir jalan sembari mengagung-agungkan semua jalan. Pilihlah salah satu diantaranya, dan mulailah berjalan…… Saat itu, Agama sungguh menjadi Rahmat bagimu. Bagiku. Bagi kita semua!
Anand Krishna (Aktivis Spiritual)
http://www.aumkar.org/ind/#/p=21
Apa yang terjadi, How did it happen?
Entah apa yang terjadi, entah bagaimana….. Ia berusaha untuk mejelaskan, tetapi tidak mampu. Ketika Kabir, mistik sufi asal India Utara itu ditanya, “Apa yang kau rasakan saat itu?” Ia menjawab, “Kulihat sungai Ganga yang berbada lebar itu terbakar, dan ikan-ikannya memanjat pohon!”
Nanak, yang kelak akan dikaitkan dengan agama Sikh, salah satu diantara agama-agama baru yang berusia dibawah enam abad, menjawab dengan cara lain: “Aku melihat langit terbelah, dan turun hujan cahaya….. Cahaya Murni!”
Namun, mereka pun menyadari bahwa pengalaman mistik mereka tidak berarti apa-apa jika tidak bermanfaat bagi orang lain. Maka, terpaksa, mereka berusaha untuk meng-“akal”-kan sesuatu yang sungguhnya berada diluar akal, supaya kita dapat memahaminya. Supaya “masuk-akal” kita!
“Agama, dan kitab-kitab suci,” kata Murshidku, Sheikh Baba, seorang tukang es di Lucknow (Pusat Peradaban Islam di India Utara), “adalah hasil upaya seperti itu.”
Ia melanjutkan, “Agama dan kitab-suci adalah sarana, bukan tujuan. Gunakan mereka sebagai pemicu untuk memicu kesadaran di dalam dirimu. Untuk memicu kehausan dan kerinduan di dalam dirimu. Untuk apa? Untuk mengalamai sendiri apa yang dialami oleh para rasul, para sufi, juga para yogi, para suci dan mistik dari semua agama, semua tradisi.
“Jika kau menganggap agama dan kitab suci sebagai tujuan, kau akan menduakan Allah. Itulah yang dilakukan banyak orang saat ini. Tujuan adalah Allah. Dari-Nya kita berasal, kepada-Nya kita kembali.”
Pemahaman tentang agama seperti inilah yang menjadikan agama Berkah atau Rahmat bagi Alam Semesta. Tafsir ini menjadikan agama Jalan Raya, Jalan Tol yang dapat dilalui siapa saja, kapan saja…. Jalan bebas hambatan.
Berbicara atau menulis tentang agama, atau tepatnya “pemahamanku tentang agama”, aku tidak dapat tidak mengutip Guruku, Murshidku, Sheikhku. Segala apa yang kumiliki saat ini hanyalah karena berkahmu, Guru!
Ia adalah penjual es, miskin materi, berpakaian compang-camping, robek sana, robek sini yang kemudian disulam dengan rapi oleh keponakannya….. Tidak seperti para ustad muda jaman kita yang sering muncul di layar teve. Tata Rias oleh ……. Busana oleh …….. Tepuk Tangan!
Sayang, setting panggung dan busana penuh gemerlap itu jarang menunjukkan kegemerlapan hati sebagaimana pernah kusaksikan dalam diri Murshidku. Seorang tukang es, penjual es balok.
Ketika seorang remaja dari keluarga Hindu menyampaikn niatnya untuk “masuk Islam”, ia pun tertawa: “Kata siapa kau belum masuk Islam? Ingat, Penyerahan Diri dan Kedamaian Hati itulah Islam. Penyerahan Diri terhadap Kehendak Ilahi dan Kedamaian Hatimu sendiri – dan, kau, nak, memiliki keduanya. Kau sudah menyatakan niatmu untuk masuk Islam, dan Allah telah mendengar niatmu itu.
“Tetapi,” nah ini yang luar biasa, yang barangkali jarang didengar di negeri kita, “janganlah sekali-kali menymbongkan dirimu sebagai Muslim. Biarlah Allah yang menentukan apakah Penyerahan Dirimu sudah sampurna atau tidak.”
“Aku ingin lebih dekat denganmu, Guru!” remaja itu masih ngotot.
“Kau sudah dekat dengan Allah.
Tugasku selesai sudah. Dengar nak, aku pun, hingga saat ini masih ber-jihad untuk menjadi seorang Muslim. Aku pun masih menunggu fatwa-Nya apakah aku diterima sebagai Muslim atau tidak.”
Jihad, bagi Guruku, berarti Koshish dalam bahasa Urdu, To Strive, To Struggle, bukan To Fight, “Jihad berarti ‘Berupaya dengan Sungguh-Sungguh’. Jihad bukan berantam, bukan berkelahi,bukan mencaci-maki, apalagi membunuh.”
Ia menggunakan bahasa sederhana, bahasa populer, bahasa gaul untuk jaman itu….. maklum, umunya para murid adalah remaja, anak-anak muda….. dan, yang termuda, yang baru berusia 11-12 tahun, seorang anak yang berasal dari Solo, Jawa-Tengah, Indonesia.
“Tetapi, ada juga ayat yang mengatakan bahwa di yang diridhai Allah hanyalah Agama Islam.” Murid yang paling tua, berusia 30-an tahun, mengingatkan sang Guru akan satu ayat dari kita yang memang bunyinya kurang-lebih begitu.
Sang Guru tersenyum, “Bukan diridhai, tidak ada istilah ridha dalam ayat itu. Ridha itu bahasa Arab, dan Al-Qur’an dalam bahasa Arab. Jika memang Allah ingin menggunakan istilah ridha, Ia akan menggunakannya. Aku memaknai, memahami ayat itu seperti ini: Bagi Allah yang ada hanyalah Islam.”
Beliau tidak pernah meng-klaim sebagai penafsir Kitab Suci, “Siapakah kita ini hingga dapat menafsirkan Firman Allah? Kita hanya dapat memahami Firman-Nya sesuai dengan tingkar kesadaran kita masing-masing.
“Sebab itu,” ia pun selalu menasihati kita, “janganlah sekali-kali merasa sudah ‘khatam’, sudah selesai dengan kitab-sucimu. Kitab-kitab suci bukan untuk dibaca seperti buku-buku umum lainnya. Kita-kitab suci harus diulangi. Terus-menerus, sepanjang hidupmu….. karena, setiap kali kau membacanya, jika kesadaranmu telah meningkat, kau akan memperoleh makna baru.”
Sebab itu pula, beliau selalu menganjurkan kita untuk membaca kitab-suci, bahkan mengaji dalam bahasa Urdu, salah satu dari sekian banyak bahasa nasional India, “Karena, dengan cara itu kalian dapat lebih memahami arti kitab suci.”
Majelis-majelis ulama di India maupun Pakistan tidak mengharamkan pengajian dalam bahasa Urdu, bahakan bahasa daerah lainnya. Sehingga, seperti yang dikatakan oleh Guru, “Kalian tidak seperti burung beo, hanya menghafal saja!”
Wah, Guru, untung kau lahir di India.
Kalau lahir di Indonesia, barangkali sudah diperkarakan oleh mereka yang merasa lebih tahu dan memonopoli ajaran agama.
Kembali pada beliau, “Ya, di mata Allah yang ada hanyalah satu, yaitu Islam. Dan, semua Nabi adalah Muslim. Hazrat Isa yang ajarannya menjadi inspirasi bagi agama Masihi, Hazrat Musa yang syariatnya menjadi agama Yahudi – mereka semua adalah Muslim. Tanpa kecuali. Bahkan, nabi-nabi lain, dari tradisi-tradisi lain yang tidak disebut dalam Al-Qur’an. Karena, Allah pun berfirman bahwa tidak semua nabi dijelaskan lewat Al-Qur’an.”
Beliau mengartikan Islam sebagai “sifat dari agama”. Dan, “sifat”-nya itu satu. “Seperti,” Beliau jelaskan, “gula hanya memiliki satu sifat, ‘Manis’. Itu saja. Apapun bahan baku yang digunakan untuk membuat gula, jika tidak manis, ya bukan gula.
“Din adalah sifat Mazhab.
Din adalah Keagamaan, inti sari agama, agama yang dilakoni, dijalankan. Mazhab adalah wahananya, alirannya. Yang mengalir adalah Air Kehidupan Din. Mazhab adalah agama, aliran. Din adalah keagamaan, air yang mengalir.
“Apapun Mazhabmu,
Jika kau menjalankannya dengan baik, maka kau telah menemukan Din. Dan, Din itulah yang diperhatikan oleh Allah.
“Agak tidak tepat jika Din diartikan sebagai agama.
Karena, ketika Al-Qur’an diterima oleh Kekasihku,” Ya, ‘Kekasihku’, atau Mere Mehboob dalam bahasa Urdu, dengan julukan itulah beliau sering menyebut Rasul Allah, Muhammad yang kumuliakan…… “saat itu sudah ada agama Masihi, ada agama Yahudi, ada kelompok-kelompok lain pula. Kendati demikian, Firman Allah jelas dan tegas bahwa Isa yang dijunjung tinggi oleh kelompok Masihi, dan Musa yang dijunjung tinggi oleh kelompok Yahudi, adalah Muslim, Nabi. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang rendah. Semua Nabi, semua Rasul sama adanya.
“Din adalah ‘laku-agama’, perilaku yang sesuai dengan ajaran agama. Dan, ajaran agama sungguh sangat luas, tidak dapat dijadikan monopoli salah satu kelompok. Maka, Allah pun menasihati kita supaya melakoni agama sesuai degan kesadaran kita, dan membiarkan orang lain melakoninya sesuai dengan kesadaran dia.
“Sungguh sangat tidak bijak jika kita mengharuskan seorang anak yang baru berusia 5 tahun untuk melakoni agama dan memahami ajaran agama sebagaimana dilakoni dan dipahami oleh seorang dewasa.”
Saat itu, pemahaman agama seperti itu terasa “oke-oke” saja. Masuk akal sih, walau usia saya baru 11-12 tahun. Beberapa tahun kemudian, kembali ke Indonesia, saya baru sadar betapa revolusionernya pemahaman Guruku, Murshiduku, Sheikhku…. Waheguru, Wah Guru, Engkau sungguh hebat!
Di lain kesempatan ia merestui perkawinan antara dua orang muridnya yang beda agama. Perkawinan seperti itu memang tidak dilarang oleh konstitusi negara India, kendati sebagian masyarakat masih belum dapat menerimanya. Saat itu, seorang murid lain berkomentar, “Baba, bagaimana jika kelompok fundamental menyerangmu?”
“Ah, kelompok fundamental….
Apa benar mereka fundamental? Jika benar fundamental, mereka tidak akan menyerang. Karena mereka tahu persis ketika Mere Mehboob kawin dengan Khadija, ritual Agama Islam pun belum ada. Perkawinan mereka itu sesuai dengan ritual agama yang mana? Apakah perkawinan mereka tidak sah?
“Tidak, yang dapat menyerang saya bukanlah kelompok fundamental. Tetapi, segerombolan orang-orang yang belum memahami agama. Kasihan. Ya, mereka patut dikasihani. Aku akan menerima serangan mereka, dan akan berusaha untuk menjelaskan sebatas kemampuanku.”
Ia bukanlah seorang Guru yang suka memasang senyuman plastik. Ketika gusar, ia tidak berusaha untuk menyembunyikan kegusarannya. Seperti ketika ia menghadapi teman-teman dari kelompok Wahabi yang meneruskan sekte Hambali yang alot, keras, kaku. Mereka mengaku sebagai satu-satunya kelompok dalam Islam yang masih setia pada Al-Qur’an dan Hadis. Mereka tidak relah jika ada yang melakukan ijtihad dan berusaha untuk memahami ayat-ayat suci sesuai dengan kesadarannya.
Mereka adalah kelompok yang selalu berseberangan dengan Cak Nur, Gus Dur, Cak Nun, Dawam, Ma’rif. Mereka selalu membela para penjahat dan teroris seperti Amrozi, Samudra dan lain-lain.
Kepada mereka, Sang Guru mengatakan , “Janganlah hidup dalam ilusi seolah dengan memelihara janggut seperti nabi, atau berjubah seperti beliau – kalian sudah cukup Islam. Berakhlaklah seperti beliau.
“Nabi mengangkat pedang hanya untuk melawan kezaliman, demi kebebasan dan kemerdekaan….. Apa yang kalian lakukan? Setiap tahun mengejar teman-teman kita dari kelompok Shi’a. Tidak pernah berhenti sebelum jatuhnya korban, sebelum ada nyawa yang melayang. Mencaci-maki kelompok-kelompok lain. Kalian adalah Daag pada wajah Islam.” Daag dalam bahasa Urdu berarti “Noda”.
Sekitar tahun 1960-an memang masih sering terjadi pertikaian antara kelompok Shi’a dan Sunni, khususnya menjelang hari berkabung bagi kelompok Shi’a dimana mereka memperingati kematian Hassan dan Hussein, cucu Nabi, Mere Mehboob, Kekasihku.
Beliau, Guruku, sungguh merupakan ensiklopedi kebijakan. Suatu ketika ia menjelaskan, “Nabi kita begitu rendah hati, begitu sopan, santun, sehingga siapapun yang datang kepada-Nya, ia akan berkata, ‘Doakanlah diriku, keluargaku, sahabatku’…. Padahal, bukanlah beliau yang membutuhkan doa kita. Kitalah yang membutuhkan doa beliau.
“Sekarang, apa yang terjadi?
Telah menjadi kebiasaan kita untuk setiap kali mendoakan beliau. Tidak apa, baik-baik saja. Asal kita tidak menjadi sombong, tidak menjadi angkuh seolah beliau membutuhkan doa kita.
“Tisak, beliau tidak membutuhkan doa kita.
Kitalah yang membutuhkan doa beliau!”
Tetapi, kemudian, ia pun selalu mengingatkan kita, “Janganlah kalian membingungkan teman-teman yang belum siap untuk pelajaran ini. Mereka yang belum siap dengan materi yang kita dapatkan disini.
“Dalam setiap tradisi, dalam agama manapun, kita selalu diingatkan supaya tidak melemparkan mutiar kepada kawanan babi. Bhagavad Gita pun mengatakan, janganlah menyebarluaskan ajaran ini di tengah masyarakat yang belum siap.
“Babi diberi mutiara, apa yang terjadi?
Ia tidak tahu nilai mutiara, ia memakannya, keselek, dan ia tidak dapat benapas. Ia gusar dan akan menyerangmu kembali.
“Berikan mutiara kepada mereka yang mengerti nilai mutiara. Kepada mereka yang mengapresiasinya. Kepada mereka yang akan menghargainya.
“Seorang yang memiliki pengetahuan dan tidak berbagi dengan orang lain yang siap untuk menerimanya, adalah seorang kikir, pelit. Berbagilah dengan mereka yang siap.
“Tuhan ada dimana-mana, di Barat dan di Timur, di Selatan dan di Utara. Wajah-Nya ada dimana-mana, tetapi untuk pemusatan kesadaran kita membutuhkan kiblat…. maka, dalam setiap agama ada kiblat.
“Jagalah tali persahabatan dengan sesama manusia….. ya, dengan mereka yang berjiwa manusia, bukan berbadan manusia saja……” Beliau selalu menasihati kita untuk menjauhi mereka yang hanya berbadan manusia. Tidak perlu membenci mereka, hanya menjauhi saja, “Karena, kehewanian mereka bagaikan penyakit menular. Nanti, pada suatu ketika, jika kau sudah memiliki kemampuan untuk mengobati mereka, silakan mendekati mereka…. Tetapi, jangan dulu, jangan sekarang…. Kemampuan seperti itu belum ada dalam diri kita.”
Din, atau melakoni agama, menjalani ajaran agama, bagi beliau adalah proses seumur hidup, “Jika kau menganggap dirimu sudah menjadi Ulama, sudah memiliki Ilmu – maka kau akan mati dengan ilmumu itu. Segitu-gitu saja yang kau miliki. Kau tidak akan berkembang lebih lanjut.
“Seorang Ulama Sejati tidak pernah berhenti menggali diri…. Ia menemukan pemahaman-pemahaman baru dalam dirinya, bukan saja dengan membaca ulang kitab suci, tetapi dengan memahami ayat-ayat Allah yang bertebaran di alam semesta. Dimana-mana.”
Ya, Ayat-Ayat Allah bertebaran dimana-mana, “Ada yang dirangkum dan ditulis, dicetak…. Kita menyebutnya Al-Qur’an, Bacaan Mulia. Ada yang menyebutnya Bhagavad Gita, Nyanyian Mulia. Ada pula yang menyebutnya Injil, Berita Mulia. Semuanya mulia.
“Aku percaya,” lanjut Guruku, “bahwa semua itu berasal dari Satu, dari Allah. Semuanya, tanpa kecuali, berasal dari Yang Maha Kuasa, Yang Maha Esa.
“Dulu, aku pun sering mempersoalkan teman-teman Hindu yang kuanggap memuja berhala….. Tetapi, kemudian kupahami bahwa apa yang kuanggap berhala, adalah kiblat mereka. Mereka menggunakan semua itu sebagai sarana untuk memusatkan kesadaran mereka, sebagaimana aku menggunakan kaligrafi, bahkan gambar Mekah Shariff sebagai sarana untuk pemusatan kesadaranku.”
Dengan bekal pemahaman agama seperti inilah aku kembali ke negeri asalku, ke tanah air, ke Indonesia….. dan, awal-awalnya masih oke….. tetapi, lambat-laun, pemahaman agama yang berkembang disini sungguh membingungkan aku.
Agama tidak lagi menjadi sarana.
Agama disejajarkan dengan Tuhan, dianggap absolut. Begitu pula dengan kitab suci…. Dan, yang lebih celaka lagi, Manusia Indonesia, oleh lembaga yang merasa paling kompeten, tidak lagi diperkenankan untuk memahami aajaran agama sesuai dengan kesadarannya. Ia tidak diperkenankan untuk berijtihad. Pemahaman agama dibungkus rapi dalam kapsul, di pak, dan diberi tanda, “Sesuai dengan …..” Dan, hanyalah pak atau botol bertanda “Sesuai dengan ……” itulah yang diperjual-belikan.
Agama menjadi komoditas. Mereka yang merasa memiliki monopoli terhadap agama, menjajahnya di pasar untuk diperjualbelikan. Para politisi menggunakannya dengan cermat. Para pengusaha pun idak mau kalah.
Sementara itu, Lia Aminuddin diperkerakan, Ahmadiyah dikejar-kejar….. Jika Guruku disini, barangkali darahnya sudah dinyatakan halal. Terlepas dari setuju atau tidaknya kita terhadap apa yang dikatakan oleh Lia dan apa yang didakwahkan oleh Ahamadiyah, jangan lupa apa yang kita katakan dan dakwahkan pun tidak diseutujui semua orang. Ya, kebetulan saja kita mayoritas, sehingga minoritas mati kutu.
Agama, sebagaimana kita pahami dan praktekkan saat ini, jelas tidak menjadi Rahmat bagi Alam Semesta. Jangankan Alam Semesta, bagi negara kita pun tidak bisa.
Agama sebagaimana dipraktekkan oleh kelompok-kelompok militan di Timur Tengah misalnya, menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan bagai seluruh rakyat Palestina dan Lebanon. Saat ini, silakan berpihak pada mereka – kelak, jika Bangsa Palestina dan Lebanon bangkit, namamu akan dimasukkan dalam daftar para pengkhianat bangsa dan negara. Kewarasan kita tidak setuju dengan serangan agresor Israel, tetapi kewarasan kita juga tidak setuju dengan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok militan sehingga selalu memicu perang di kawasan itu.
Palestina, Lebanon, Irak….. negara-negara di Teluk yang merasa tertindas saat ini, harus mengupayakan kelahiran seorang Gandhi. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, dan kejahatan yang menyerangmu akan kehabisan energi. Mereka akan berhenti sendiri. Saat ini, kejahatan Israel malah mendapatkan energi dari kelompok-kelompok militan di Timur Tengah. Mereka memperoleh alasan untuk melakukan agresi militer.
Adalah suatu kemalangan bahwa kelompok-kelompok militan seperti itu, ada juga di tanah-air kita. Ada juga tokoh-tokoh yang menyebarluaskan kebencian dengan menggunakan dalih agama. Ayat-ayat suci diselewengkan artinya, dan penyelewengan itu disebut ilmiah. Baru keluar dari penjara, sudah berkarya kembali. Seribu orang menghadiri Tabligh Akbar yang digelarnya. Tepuk Tangan!!
Agama adalah Berkah.
Ia menjadi Rahmat yang menyebarkan Kasih, atau menjadi Laknat yang penuh Kebencian – karen ulah manusia, karena kita. Karena pemahaman kita, karena laku kita.
Agama merupakan Rahmat bagi Alam Semesta.
Agama-agama, setiap agama, agamaku dan agamaku, agama kita semua – yang intinya adalah satu, Penyerahan Diri pada Kehendak Ilahi – tanpa kecuali merupakan Berkah dan berpotensi sebagai Rahmat bagi Alam Semesta. Berpotensi. Benih Potensi itu mau ditanam, disiriami air kehidupan, dipupuki dengan cinta…… atau dibiarkan jatuh diatas tanah yang gersang, dan mati dalam kekeringan…… semuanya kembali pada kita.
Agama adalah sesuatu yang bersifat sangat individu, dalam pengertian setiap orang harus menjalaninya sendiri. Ia tidak dapat diwakilkan. Tidak ada yang menjadi perantara antara khalaq, ciptaan Allah, dan Khaaliq, Gusti Allah., Sang Maha Cipta. Institusi-institusi yang saat ini berperan sebagai perantara tak akan bertahan lama.
Kebangkitan Manusia Indonesia, bangkitnya kesadaran dalam diri kita – akan mengakhiri peran institusi-institusi tersebut. Dan, institusi-institusi tersebut pun menyadari hal ini. Mereka memahaminya betul. Mereka tahu bahwa institusi-institusi mereka melanggar Hukum Alam, bertentangan dengan Firman Allah.
Berkah dan Rahmat adalah dari Allah.
Berkah tidak dapat diinstitusikan. Rahmat tidak dapat dilembagakan. Segala upaya ke arah itu hanya membuktikan ketololan kita.
Lalu, bagaimana agama yang konon diakui sebagai rahmat bagi seluruh alam, dapat diinstitusikan? Bagaimana dapat dilembagakan?
Namun, kenyataan di lapangan, ground facts, membenarkan bahwa setiap agama telah diinstitusikan, dilembagakan…… Apa iya? Jika memang demikian, bagaimana dengan Firman Allah bahwa Agama adalah Rahmat bagi Seluruh Alam? Apa iya, Rahmat Allah dapat diinstitusikan?
Saya tidak tahu.
Yang jelas, pelembagaan semacam itu telah menyusahkan banyak orang. Memecah-belah umat, memicu pertikaian, pertengkaran, bahkan perang atas nama agama.
Jangan-jangan, dalam kegagapanku aku berpikir, jangan-jangan yang mereka anggap agama dan dilembagakan itu bukan agama….. ini memang pemikiranku yang sangat bodoh dan tidak ilmiah….. Jangan-jangan yang mereka lembagakan dan institusikan itu hanyalah “ego” mereka, kesombongan mereka, keakuan mereka yang merasa sudah tahu segala sesuatu tentang agama.
“Manusia yang masih merupakan konsep, masih harus berjuang untuk menjadi final,” kata seorang teman, “malah berusaha untuk menciptakan konsep tentang Tuhan.” Inilah kesia-siaan kita. Inilah kekacauan pikiran kita.
Lembaga-lembaga dan institusi-institusi kita hanya menyandang nama agama. Identitas agama digunakan oleh pengusaha dan pedagang bagi usaha mereka, warung mereka. Digunakan oleh para politisi sebagai asas partai mereka. Bahkan pembela para penjahat pun menggunakannya secara bebas. Tidak ada yang menegur mereka? Kenapa? Karena, kita semua melakukan kesalahan yang sama. Kita semua, sama-sama gila!
Agama adalah Rahmat bagi seluruh Alam.
Alas, sayang, kita belum beragama…. Kita belum merasakan Rahmat-Nya….. Turunnya Hujan Berkah tidak memberi manfaat apa-apa kepada kita, karena kita berdiri tegak seperti gunung, bukit. Kita tetap gundul.
“Jadilah Lembah,” kata Lao Tze, “rendahkan dirimu, dan kau akan menjadi subur….. Air hujan akan menggenang, kau dapat menampungnya!” Kemudian, agama pun betul-betul menjadi Rahmat bagi Alam Semesta.
Agama manapun,
Agamamu dan Agamaku, Agama-Agama kita….. Agama yang merupakan jalan, dan setiap jalan menuju tujuan yang satu dan sama – Allah! Kau menyebutnya Allah, ada yang menyebutnya Bapa di Surga, Hyang Widhi, Tao, Buddha, Satnaam, Ahura Mazda, Gusti – apa saja – Ia Satu dan Sama.
Banyak Jalan, Satu Tujuan.
Namun, jangan pula berhenti di pinggir jalan sembari mengagung-agungkan semua jalan. Pilihlah salah satu diantaranya, dan mulailah berjalan…… Saat itu, Agama sungguh menjadi Rahmat bagimu. Bagiku. Bagi kita semua!
Anand Krishna (Aktivis Spiritual)
http://www.aumkar.org/ind/#/p=21
Minggu, 07 September 2008
Fondasi di atas mana Iman di bangun
Assalamu 'Alaykum wa Rahmatullahi wa Barakatuhu
(May the peace, mercy and blessings of Allah be with you)
{In Bahasa Indonesia & below IN ENGLISH}
from taman_permata@yahoogroups.com
"PH Pro"
In Bahasa Indonesia: Fondasi di atas mana iman dibangun; atau disebut juga sebagai Ruh Iman, Ruh-ul Iimaan, adalah untuk memikul apa pun yang tidak kalian senangi, dan untuk bersabar atas apa pun yang tidak kalian suka. Karena, sebagaimana ada demikian banyak manusia di atas muka bumi ini, sedemikian banyak itu pula terdapat berbagai sifat karakter dan bakat mereka masing-masing, dan kalian mesti memikulnya semua. Kapan saja kalian memikul beban orang lain, kalian akan memperoleh lebih banyak tenaga, lebih banyak kekuatan bagi iman kalian. Kekuatan sejati dari Iman adalah untuk tetap istiqomah di hadapan berbagai fitnah dan cobaan.
Pada zaman kita sekarang ini, tanda dari akhlaq yang mulia, derajat tertinggi dari Jihad-ul Akbar, Perjuangan tertinggi, adalah untuk memikul karakter buruk orang lain dan mentoleransi mereka. Kita tidak diperintah untuk menolak orang, tapi, untuk membuat mereka senang dan bahagia. Kita tengah hidup pada suatu zaman dimana orang dapat mengatakan apa saja dan apa pun; kalian mesti bersabar dengan mereka, dan memaafkan mereka dengan tiada bertengkar.
Kalian mesti tahu bahwa orang-orang itu tengah sakit dengan ego mereka. Jika kalian mengklaim diri kalian sebagai dokter, kalian harus memaafkan mereka. Jika kalian berada di jalan para Nabi, kalian mesti menolong mereka dan toleran terhadap mereka. Ini adalah tingkatan tertinggi dari akhlaq dan adab yang mulia.
Kalian tidak boleh melupakan kebaikan yang telah dilakukan pada diri kalian. Jika seseorang melakukan suatu kebaikan pada diri kalian, dan kemudian karena sesuatu hal yang ia katakan atau ia perbuat, kalian menjadi tidak senang atas dirinya, maka ketidaksenangan diri kalian padanya, atau terlupanya diri kalian atas perbuatan baiknya bagi kalian, adalah suatu sifat yang tercela.
Seperti ketika kalian memberikan sekerat daging pada kucing seratus kali tapi ketika kalian membiarkannya (lapar) satu kali saja, kucing itu akan mengeluh dan protes kepada Allah, berkata, "Ia telah membiarkanku lapar!". Adalah akhlaq yang mulia untuk tidak bertengkar (berdebat-kusir) dengan orang lain, bahkan seandainya kalian tahu bahwa kalian berada dalam kebenaran. Bertengkar (berdebat-kusir mengenai agama) memadamkan cahaya iman.
Siapakah Muslim sejati? Ia yang tidak menyakiti siapa pun, baik dengan tangannya, maupun dengan lidahnya. Orang-orang selamat dari dirinya. Inilah jalan masuk yang terbuka lebar kepada Islam, dan terbuka untuk semua orang.
IN ENGLISH: The base upon which faith is built; the spirit of faith/Ruh ul Iman is to carry everything that you don't like, and to be patient with those you don't like. For as many people as there are on this earth, such is the number of different characters and abilities, and you must carry them all. Whenever you are carrying other people, you get more power, more strength for your faith. The real power of faith is to remain unchanged in the face of trials.
In our times, the sign of a good character, and the highest degree of Jihad-ul-Akbar/ biggest fight, is to carry other people's bad characters and to tolerate them. We have not been ordered to refuse people, but to make them more pleased. We are living in a time when people may say anything and everything; you must be patient with them, and excuse them, always without fighting.
You must know that people are ill with their egos. If you are claiming to be doctors, you must excuse them. If you are on the way of Prophets, you must help them and be tolerant of them. This is the highest degree of good manners.
You must not forget a goodness that has been done to you. If someone does something good for you, and afterwards you become displeased with that person over something he said or did, your displeasure, your forgetfulness of that person's good deed toward you is from bad character.
You may give meat to cats one hundred times; but if you leave it just once (hungry), that cat will make objections and complaints to Allah, saying: "He left me hungry!" It is good manners not to argue with people, even if you know that you are in the right. Arguing extinguishes the faith.
Who is a real Muslim? One who doesn't harm anyone, either with his hands or with his tongue. People are safe from him. This is a wide entrance to Islam, and it is for all people.
Dikutip dari Penulis Buku Mercy Oceans:
As-Sayyid Syaikh Muhammad Nazim Adil,
Keturunan & Pewaris Ilmu Nabi Muhammad saw.
Quoted from the Author of Mercy Oceans:
As-Sayyid Shaykh Muhammad Nazim Adil,
Descendant & inheritor of the knowledge
of the Holy Prophet Muhammad (saws)
Langganan:
Komentar (Atom)
