Minggu, 07 September 2008

Fondasi di atas mana Iman di bangun

Bismillahir Rahmanir Raheem
Assalamu 'Alaykum wa Rahmatullahi wa Barakatuhu
(May the peace, mercy and blessings of Allah be with you)





{In Bahasa Indonesia & below IN ENGLISH}
from taman_permata@yahoogroups.com
"PH Pro" indonesia@yahoo.com>



In Bahasa Indonesia: Fondasi di atas mana iman dibangun; atau disebut juga sebagai Ruh Iman, Ruh-ul Iimaan, adalah untuk memikul apa pun yang tidak kalian senangi, dan untuk bersabar atas apa pun yang tidak kalian suka. Karena, sebagaimana ada demikian banyak manusia di atas muka bumi ini, sedemikian banyak itu pula terdapat berbagai sifat karakter dan bakat mereka masing-masing, dan kalian mesti memikulnya semua. Kapan saja kalian memikul beban orang lain, kalian akan memperoleh lebih banyak tenaga, lebih banyak kekuatan bagi iman kalian. Kekuatan sejati dari Iman adalah untuk tetap istiqomah di hadapan berbagai fitnah dan cobaan.

Pada zaman kita sekarang ini, tanda dari akhlaq yang mulia, derajat tertinggi dari Jihad-ul Akbar, Perjuangan tertinggi, adalah untuk memikul karakter buruk orang lain dan mentoleransi mereka. Kita tidak diperintah untuk menolak orang, tapi, untuk membuat mereka senang dan bahagia. Kita tengah hidup pada suatu zaman dimana orang dapat mengatakan apa saja dan apa pun; kalian mesti bersabar dengan mereka, dan memaafkan mereka dengan tiada bertengkar.

Kalian mesti tahu bahwa orang-orang itu tengah sakit dengan ego mereka. Jika kalian mengklaim diri kalian sebagai dokter, kalian harus memaafkan mereka. Jika kalian berada di jalan para Nabi, kalian mesti menolong mereka dan toleran terhadap mereka. Ini adalah tingkatan tertinggi dari akhlaq dan adab yang mulia.

Kalian tidak boleh melupakan kebaikan yang telah dilakukan pada diri kalian. Jika seseorang melakukan suatu kebaikan pada diri kalian, dan kemudian karena sesuatu hal yang ia katakan atau ia perbuat, kalian menjadi tidak senang atas dirinya, maka ketidaksenangan diri kalian padanya, atau terlupanya diri kalian atas perbuatan baiknya bagi kalian, adalah suatu sifat yang tercela.

Seperti ketika kalian memberikan sekerat daging pada kucing seratus kali tapi ketika kalian membiarkannya (lapar) satu kali saja, kucing itu akan mengeluh dan protes kepada Allah, berkata, "Ia telah membiarkanku lapar!". Adalah akhlaq yang mulia untuk tidak bertengkar (berdebat-kusir) dengan orang lain, bahkan seandainya kalian tahu bahwa kalian berada dalam kebenaran. Bertengkar (berdebat-kusir mengenai agama) memadamkan cahaya iman.

Siapakah Muslim sejati? Ia yang tidak menyakiti siapa pun, baik dengan tangannya, maupun dengan lidahnya. Orang-orang selamat dari dirinya. Inilah jalan masuk yang terbuka lebar kepada Islam, dan terbuka untuk semua orang.


IN ENGLISH: The base upon which faith is built; the spirit of faith/Ruh ul Iman is to carry everything that you don't like, and to be patient with those you don't like. For as many people as there are on this earth, such is the number of different characters and abilities, and you must carry them all. Whenever you are carrying other people, you get more power, more strength for your faith. The real power of faith is to remain unchanged in the face of trials.


In our times, the sign of a good character, and the highest degree of Jihad-ul-Akbar/ biggest fight, is to carry other people's bad characters and to tolerate them. We have not been ordered to refuse people, but to make them more pleased. We are living in a time when people may say anything and everything; you must be patient with them, and excuse them, always without fighting.

You must know that people are ill with their egos. If you are claiming to be doctors, you must excuse them. If you are on the way of Prophets, you must help them and be tolerant of them. This is the highest degree of good manners.

You must not forget a goodness that has been done to you. If someone does something good for you, and afterwards you become displeased with that person over something he said or did, your displeasure, your forgetfulness of that person's good deed toward you is from bad character.

You may give meat to cats one hundred times; but if you leave it just once (hungry), that cat will make objections and complaints to Allah, saying: "He left me hungry!" It is good manners not to argue with people, even if you know that you are in the right. Arguing extinguishes the faith.

Who is a real Muslim? One who doesn't harm anyone, either with his hands or with his tongue. People are safe from him. This is a wide entrance to Islam, and it is for all people.


Dikutip dari Penulis Buku Mercy Oceans:
As-Sayyid Syaikh Muhammad Nazim Adil,
Keturunan & Pewaris Ilmu Nabi Muhammad saw.
Quoted from the Author of Mercy Oceans:
As-Sayyid Shaykh Muhammad Nazim Adil,
Descendant & inheritor of the knowledge
of the Holy Prophet Muhammad (saws)


1 komentar:

lexa home industri mengatakan...

hatur nuhun kang..leureus pisan asa kacebor ieu hate teh..syukron khosiron UMMI.